Rabu, 13 November 2013

IDM (Internet Download Manager) terbaru


Download IDM Terbaru 2013 

Hasil gambar untuk idm png
 Download IDM Terbaru 2013   berbagi software download manager. Yaitu Internet Download Manager atau yang biasa di sebut IDM.Pasti disini semuanya sudah tahu kan apa itu IDM? Jika belum, saya akan memberi sedikit penjelasan tentang IDM. IDM adalah suatu software yang dapat mempermudah kita untuk mendownload suatu file, gambar, video, dll. Dan IDM sendiri memiliki banyak kelebihan. Apa itu? Silahkan lihat ke bawah.

Kelebihan IDM



1. Semua browser dapat menggunakan IDM.
2. Download Menjadi Lebih Mudah.
3. Lebih mudah download video dari situs seperti youtube.
4. File yang telah di download secara otomatis di scan oleh antivirus komputer kita.
5. Kecepatan download lebih cepat daripada tidak menggunakan IDM.
6. Saat download bisa di pause dan di resume.

Jika anda ingin mendownload IDM, silahkan klik link di samping ini : Download IDM 

Selasa, 12 November 2013

Download Photoscape

 

Download Photoscape Terbaru 3.6.3 Full Version


Download Photoscape Terbaru 3.6.3 Full Version, Free Download Photoscape Terbaru Gratis - Photoscape adalah sebuah program editor gambar untuk mendapatkan gambaran cepat foto dan gambar dengan cara-cara yang sangat sederhana untuk mengoptimalkan foto dan gambar.
Photoscape new version free download full, Pada Photoscape 3.6.3  ini terdapat pembaruan dan penambahan Blur Tinggi Jitter Brushes Efek tambah, Fungsi Cermin ditambahkan dalam Gambar, Filter (antique01 antique02) Bingkai (antik Photo 01 02), Beberapa bug diperbaiki. Sekian semoga bermanfaat !!

Title                : Photoscape 3.6.3
Filename       : PhotoScape_V3.6.3.exe
File size         : 20.34MB (21,322,864 bytes)
Requirements: Windows 2000 / XP / Vista / Windows7 / XP64 / Vista64 / Windows7 64 / Windows8 / Windows8 64
Languages     : Multiple languages
Author            : Moii Tech

Klik link di bawah ini jika ingin mendwnload PHOTOSCAPE 3.6.3

blognya nisa : Cerpen (Cerita Pendek) :D

blognya nisa : Cerpen (Cerita Pendek) :D:

 “DILEMA”

Pagi ini adalah pagi yang melelahkan untuk Shila, karena pagi ini Shila harus mendaftar masuk SMA sendiri, karena kedua orang tuanya yang super sibuk (Bak selebritis). Dua hari setelah Shila mendaftarkan dirinya, tibalah waktunya untuk pengukuhan peserta didik baru yang diadakan melalui upacara. 


          “Huhhh... upacara yang sangat membosankan.” Keluh Shila sambil meniup kearah poninya. Karena selain tidak ada orang yang bisa ia ajak ngobrol selain Dinda teman yang baru dia kenal, juga karena pidato yang di sampaikan pak kepala sekolah yang amat panjang (Rel kereta api kali...)


          Setelah berjam-jam mendengarkan pak kepala sekolah ngoceh, akhirnya selesai juga upacara yang membosankan ini. Dan tiba waktunya untuk Shila mengistirahatkan kupingnya yang dari tadi dengerin pak kepala sekolah bernyanyi (Eh, ngoceh maksudnya). Tak lama Kyana duduk untuk mengistirahatkan telinga dan tubuhnya, muncullah makhluk yang datang tak diundang (bak jelangkung) yang tak lain adalah Dinda. CW satu ini sungguh bawel, ga di bilang bawel gimana  coba? baru masuk udah nanya ini, nanya itu, ngomong ini, ngomong itu. “Euhh udah kaya pak kepala sekolah aja CW satu ini”. Keluh Shila di dalam hati .


          Dinda yang dari tadi ngomong tidak Shila dengarkan, karena saking capenya kuping Shila yang udah dari tadi dengerin pak kepala sekolah, sekarang di lanjut Dinda. Shila pun keluar untuk menenangkan diri, Dinda hanya melihat Shila keluar dengan rasa heran bercampur kesal. 


          Shila yang sedang melamun, tiba-tiba ia terkejut karena seseorang menepuk pundaknya. “Hai..!” Sapa seseorang di belakangnya dengan tegas, sambil berjalan ke depannya dan akhirnya duduk di samping Shila. Shila pun memalingkan badanya ke arah pria itu berada dan membalas sapa nya. “Hai juga!” Balas Shila dengan nada judes. “Kenapa dari tadi aku perhatiin bengong terus”. Tanya laki-laki itu, penasaran. “Gak apa-apa cuma lagi menenangkan diri dari keramaian”. Jawab Shila. Mereka pun sudah berbincang cukup lama. “Eh dari tadi kita ngobrol tapi gak tau identitas satu sama lain. Kenalin aku Sandy, kamu?” Tanya nya penasaran. “Aku Shila, kamu kelas apa?” Jawab Shila sambil bertanya balik. “Kelas 10-C”. Jawab Sandy, irit. “Kalau gitu kita satu kelas, aku juga kelas 10-C, tapi tadi aku ga liat kamu di kelas.” Jawab Shila panjang lebar. “Dari tadi aku di kamar mandi dan waktu aku keluar, aku liat kamu lagi bengong jadi aku samperin aja kamu.” Jawab Sandy.


          Setelah perbincangan yang cukup lama antara mereka, membuat Shila dan Sandy menjadi akrab, merekapun menjadi teman dekat dan menjalin tali persahabatan. Mereka tidak bisa di pisahkan, dimana ada Shila pasti ada Sandy. Persahabatan mereka pun sudah berlangsung lama. Saking dekatnya mereka, membuat Sandy merasakan ada rasa yang berbeda antara dia dan Shila melebihi seorang sahabat. Perhatian yang di berikan sandy kepada Shila pun semakin melebihi layaknya seorang sahabat. 


          Bel pun berbunyi yang menandakan saatnya istirahat. Sandy pun mengajak Shila untuk makan ke kantin. “Shil makan yu?” Tanya sandy sambil mengelus-elus perutnya yang dari tadi kelaparan. “mmp, makan kemana?” Tanya Shila. “Kekantin aja lah yang deket, nanti aku teraktir deh.” Balas Sandy, taksabar. “Bener nih? Sepuasnya ya?” Jawab Shila, senang. “Iya, apa sih yang engga buat kamu Shil?” Jawab Sandy, keceplosan. “Apa?” Tanya Shila Heran. “Gak, gak  ada apa-apa,  kamu kan sahabat aku Shil, jadi apa yang enggak sih buat kamu, iya kan?” Jawab Sandy gugup. “Iya donk harus.” Jawab Shila cengengesan. Melihat Shila yang tampak senang, Sandy pun ikut senang dan melamun sambil berkata dalam hati ketika merasakan rasa itu “Ya Allah. Apakah ini cinta?” tanya Sandy dalam hati.” Setelah selesai makan merekapun kembali ke dalam kelas untuk melanjutkan pembelajaran.


          Suatu malam ketika Shila tengah berbaring sambil membaca novel. Suara handphone Shila pun berbunyi dan ternyata panggilan dari Dinda. “Hallo Shil!” jawab Dinda. “Iya ada apa ?” Tanya Shila heran, karena gak biasanya Dinda nelphone jam segini. “Gini Shil, aku mau minta tolong sama kamu, kamu kan temen deketnya Sandy mau gak kamu deketin aku sama Sandy.” Jawab Dinda to the poit. “Kamu suka sama Sandy Din, dari kapan?” Jawab Shila kaget. “Iya, sebenernya dari pertama masuk SMA.” Jawab Dinda, gugup. Sejenak Shila terdiam dan mengeluh dalam hati. “apa aku harus lakukan semua ini? Tapi aku juga kan...”. keluh Shila dalam hati. “Shil-Shil, Kok diem sih? Kamu maukan deketin aku sama Sandy?” tanya Dinda.  “Euh,,euh.. Oh iya! Nanti aku usahain.” Jawab Shila, menenangkan dengan nada gak rela. “Makasih ya Shil, kamu emang temen aku yang paling baik.” Jawab Dinda dengan penuh rasa terima kasih. “Iya sama-sama.”Jawab Shila. 


          Pagi hari ketika Shila akan berangkat sekolah, muncul sesosok Cowo cool dengan suara motor yang ga aneh buat Shila, yang tak lain adalah Sandy, ia berada di depan pintu gerbang pagar Shila. “Hai, Shil! Mau bareng ga?” Sapa Sandy tegas. “Kok tumben lewat sini padahal rumah kamu kan di sebrang jalan sana?” Tanya Kyana, sambil menunjukan jalan yang berada paling pojok. Sejenak Sandy pun terdiam dengan wajah yang terlihat kebingungan. “Eu..,eum..,eum.. ayolah mau ikut apa gak? Kalo gak aku tinggal nih.” Balas Sandy sedikit gugup. “Yasudahlah aku ikut, kebetulan juga papa lagi ga ada jadi ga ada yang nganterin.” Jawab Shila sambil nyamperin ke motor Sandy. “Nih pake!” Timbal Sandy sambil nyodorin helm. Kyana pun mengambilnya dan memakainya.


          Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya sebelum Shila memulai pembicaraan, saat ia ingat akan janjinya pada Dinda. “Dy! Aku mau kenalin kamu sama temen aku, mau ga?” Tanya Shila. “Emang siapa Shil?” Jawab Sandy, penasaran. “Tapi mau gak?.” Tanya Shila.“ “Iya tergantung,, tapi jangan sama yang aneh-aneh.” Jawab sandy terpaksa. “Ya gak lah Dy masa aku kenalin sobat aku sama CW aneh sih.” Jawab Shila dengan senyum manis khasnya. “Yalah aku percaya, jadi di mana nih?” Tanya Sandy “Entar aja istirahat di kantin.” Jawab Shila. 


          Setibanya di sekolah, ternyata mereka terlambat. Mereka pun harus berurusan dengan satpam sekolah yang kemudian dilanjut dengan guru piket. Sialnya lagi mereka telat pas pelajaran kimia, yang gurunya killer banget. Sampe satu sekolah gak ada yang berani sama pak Wahyu karena saking galaknya. Mereka pun di introgasi pak Wahyu (Bak penjahat) yang di lanjut dengan hukuman lari keliling lapangan. Setelah selesai menyelesaikan hukumanya mereka pun di perbolehkan masuk ke dalam kelas, dengan syarat tidak mengulangi perbuatan nya lagi. Shila dan Sandy pun masuk dengan nafas yang ter engah-engah.


          Bel berbunyi menandakan waktunya istirahat, Shila pun menarik Sandy ke kantin dengan penuh semangat 45, karena tidak mau mengecewakan Dinda. “Kemana sih Shil?” Tanya Sandy penasaran. “Yah ke kantin lah.” Jawab Shila ”Iya tapi kan ga usah narik-narik juga kali Shil, sakit tau !” Dumel Sandy sambil mengelus-elus tangan nya yang dari tadi di tarik-tarik. “Kamu sih jalan aja lemot banget udah kaya keyong.” Balas Shila. “Ya sudah jangan tarik-tarik lagi aku bisa jalan sendiri.”  Jawab Sandy. “ya lah terserah.” Jawab Shila.  


          Saat mereka tiba di kantin, terlihat sesosok CW manis dengan rambut di gerai yang di hiasi dengan bando putih, tengah melambaikan tangannya ke arah Shila dan itu adalah Dinda. “Shil, Shil disini” Sapa Dinda sambil melambaikan tangannya. “Hy” Jawab Shila sambil membalas lambaian tangan Dinda. Shila dan Sandy pun menemui Dinda. “Hy Din! Udah lama?”Sapa Shila. “Gak kok, baru aja! Yu duduk.” Jawab Dinda. “Dy, kenalin ini Dinda temen aku yang mau aku kenalin sama kamu.” Sapa Shila. Sandy dan Dinda pun berkenalan saling berjabat tangan. “Dy, Din, aku ke kamar mandi dulu ya, kebelet nih” Tanya Shila pura-pura. “Loh kok gitu sih Shil?” Tanya Sandy heran. “Ya udahlah kalian berdua ngobrol aja dulu” Jawab Shila. Dinda yang tak heran dengan sikap Shila hanya terdiam sambil memainkan sedotan es teh manisnya.


          Setelah Shila pergi, mereka pun saling bertanya dan bercengkrama. “Din, kamu kelas apa?” Tanya Sandy mencairkan suasana. “Kelas 10-D.” Jawab Dinda gugup. Setelah itu mereka pun ngobrol cukup lama yang membuat Dinda tambah yakin tentang perasaannya terhadap Sandy. 


          Bel pun berbunyai menandakan pembelajaran akan dimulai kembali, Sandy dan Dinda pun kembali ke kelas masing-masing. “Dy aku masuk kelas dulu ya, dah.” Sapa Dinda sambil berjalan masuk ke dalam kelasnya dengan lambaian tangan yang mengarah ke arah sandy. “Ya, bye!” Jawab Sandy sambil membalas lambaian tangan Dinda dengan tetap so keren.


          Dengan kedua tangan yang berada dalam saku celananya, Sandy pun masuk kedalam kelas, yang di dalamnya sudah ada Shila yang tengah menunggunya. Sambil menunggu guru masuk Shila dan sandy pun ngobrol. “Gimana Dy?” Tanya Shila penasaran. “Gimana apanya sih Ky?” Tanya Sandy. “Gimana sama Dinda?” Tanya Shila menegaskan. “Oh, Dinda ya gitu biasa aja.” Jawab Sandy dengan nada dingin. “Kok gitu Jawabanya?” Tanya Shila kesal. “Ya terus harus gimana sih Shil?” Tanya Sandy serba salah. “Yang lain donk Dy, jawabnya.!” Timbal Shila. “Ya Dinda baik, manis, diajak ngobrol juga asik. ”Jawab Sandy.“ Jadi kamu suka?” Tanya Shila. “Gak.” Jawab Sandy irit. “Kenapa enggak? Kan tadi kamu bilang Dinda baik, manis, dan asik kalo di ajak ngobrol.” Tanya Shila penasaran. “Karena ada orang lain, disini Shil.” Jawab Sandy sambil menepak-nepak dadanya. “Siapa? Apa aku kenal?” Tanya Shila penasaran. “kamu kenal  kok  Shil, dan nanti juga kamu tau.”Jawab Sandy.


          Suatu sore setelah pulang sekolah, Sandy mengajak Shila ke Taman dekat sekolah. Setibanya di taman Sandy pun mengungkapkan perasaannya kepada Shila. “Shil aku mau ngomong sama kau.” Tanya Sandy gugup. “Ngomong aja, emang mau ngomong apa?” Jawab  Shila penasaran “Sebenernya dari pertama aku suka sama kamu Shil, aku gak ngomong karena aku gak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara aku suka sama kamu. Dan soal CW yang ada di hati aku itu kamu Shil. Aku mau kamu menjadi seseorang yang lebih dari sahabat aku, aku mau kamu jadi pacar aku Shil, bukan Dinda.” Jawab Sandy sambil memegang kedua tangan Shila. Shila yang juga suka dengan Sandy, hanya terdiam kaget “ya Allah, aku harus jawab apa, sebenernya aku juga suka sama sandy, tapi Dinda?aku gak mau dia kecewa.” keluh Shila dalam hati. Saat kejadian itu ternyata Dinda yang akan pulang ke rumahnya yang melewati taman itu, tehenti saat melihat mereka berdua dan sempat mendengarkan perkataan mereka. “Dinda!” Kata Kyana kaget saat melihat Dinda tengah berdiri sambil melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan penuh kekecewaan. Dinda pun berlari, Shila pun mengejar Dinda yang tengah berlari dan menghentikan langkah Dinda. “Din tunggu, aku bisa jelasin semuanya.” Tanya Shila. “Udah lah Shil, gak ada yang harus di jelasin semua udah jelas, kamu tuh penikung Shil.” Jawab Dinda dengan nada tinggi yang kemudian berlari ke arah rumahnya. Shila merasa sangat bersalah atas kejadian ini. 


          Sejenak Shila pun terdiam sambil merenungkan kesalahnnya, kemudian datang Sandy. “Shil!” sapa Sandy menenangkan sambil memegang pundaknya. “Sudahlah Dy, aku mau sendiri dulu.” Jawab Shila sambil menurunkan tangan Sandy di pundaknya dan kemudian berjalan menjauhi Sandy. Shila pun pulang dengan penuh rasa bersalah. Sandy hanya melihat Shila dengan rasa bersalah.


          Suatu malam ketika Shila tengah berbaring di kamarnya sambil merenungkan kesalahanya pada kejadian sore tadi. Shila berpikir dan terus berpikir, bagaimana cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Namun tampaknya semua itu sulit untuk di wujudkan.


          Pagi hari ketika Shila tengah berjalan menuju sekolah, dia melihat Dinda yang sedang berjalan menuju sekolah juga. Shila pun berlari kearah Dinda dan menyapanya. “Din!” sapa Shila saat berada di samping Dinda. Tapi Dinda menghiraukannya dan terus berjalan menuju gerbang sekolah. “Tampaknya Dinda masih marah besar padaku, ya tuhan aku harus gimana, bantu aku menyelesaikan masalah ini.” Keluh Shila dalam hati.


          Saat Dinda akan masuk ke dalam kelas, ternyata di depan pintu kelas sudah ada Sandy yang menunggunya. “Din, aku mau ngomong.” Sapa sandy. “Kalo ngomongin yang kemarin sih jangan sekarang.” Jawab Dinda sambil mencoba masuk ke dalam kelas. Dinda yang mencoba masuk kedalam kelas, Sandy tahan. “tunggu Din, please dengerin dulu aku.” Jawab Sandy sambil menarik lengan Dinda. Dinda pun terdiam dan mendengarkan Sandy. “Din, aku mohon sama kamu maafin Shila, karena bukan Shila yang salah tapi aku Din. Aku gak mau liat Shila terbebani dengan masalah ini karena aku suka dan sayang sama Shila.” Kata Sandy dengan penuh permohonan dan pengharapan kepada Dinda. Saat mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut Sandy dengan penuh permohonan, Dinda pun luluh karenanya dan menyadari bahwa cinta Sandy cuma buat Shila.


          Saat Shila tengah masuk kedalam kelasnya, Dinda memanggil Shila. “Shil!”Sapa Dinda sambil berjalan menuju Shila yang diikuti dengan Sandy. Shila pun berhenti dan memalingkan wajahya ke arah Dinda. “Din, kamu udah ga marah lagi?”Tanya Shila, “Gak Shil, sekaranga aku udah sadar sesuatu yang aku inginkan ga bisa di paksain dan cinta Sandy Cuma buat Kamu Shil.” Jawab Dinda. “Maaf dan makasih ya Din.” Jawab Shila sambil memeluk Dinda. “Iya sama-sama. Aku juga minta maaf ya Shil” Jawab Dinda. 


          Dinda melihat Sandy yang kemudian berkata “Dy, aku mau kamu jadi pacar Shila dan jaga Shila baik-baik.” Kata Dinda. “Iya Din, itu pasti. Semoga kamu dapat Cowo yang lebih baik dari aku.” Jawab Sandy. ”Iya,“ Jawab Dinda sambil menganggukan kepalanya. Akhirnya Shila  dan Sandy pun menjadi lebih dari seorang sahabat.

“TAMAT”


 

blognya nisa : Naskah Drama Bahasa Sunda

blognya nisa : Naskah Drama Bahasa Sunda:



"Histeris Cinta    Dadang"
Nu Nieun Jeung Nu Diperankeun :
Dewi Natalia Sirait : Ema Ijah
Ghina Amalia Solihah : Ema Entog
Imas Ani Mardiani : Tukang pokarewet & ibu warung
Linton Chintya Siahaan : Prieciel
Nisa Destiyana Widya : Enok & Neng
Taufik Hendar : Abah Oyoh
Topan Deno : Dadang
Waode Melisa Lestari : Claudya
XI IPA 1
SMAN 1 MARGAASIH
KAB. BANDUNG

Hiji mangsa, ti hiji kampung Bojong Leungit aya hiji kaluarga anu di antarana Abah Oyoh, Ema Entog, jeung anakna Dadang.
Di buruan .....
Ema     : Dang ....
Abah   : Dut!
Ema     : Dang ....
Abah   : Dut ! 
Ema     : Naaaa, ari abah nanaonan ?
Abah   : Teu ah !
Dadang : (nyamperkeun ema) aya naon atuh ma, meni rariweh. Dadang teh keur hese-hese berjuang  teh.
Ema     : Berjuang naon ari maneh teh ?
Dadang : eta...biasa keur setor di cai.
Ema     : euleuh....euleuh.... ari si Dadang, dasar manehmah bisana ngan ukur hardolin weh!
Dadang : hehe... aya naon tadi teh ma ngageroan Dadang ? Mun sakira-kiran penting mah sok ku dadang di dangukeun . ngan, mun teu pentingmah sori-sori weh ma Dadang teh sibuk !
Ema     : euleuh si borokokok ! nya penting atuh ieu mah, matak ge dangukeun heula ema! Cik kadie, tah maneh diuk didieu (nuduhkeun tempat diuk). Kieu dang, gening si enok teh rek dijodokeun.
Dadang : ah, di jodoken kumaha ?
Ema     : piraku maneh teu ngarti dang ? ari maneh pernah dahar bangku sakola can ? piraku kitu wae teu ngarti !
Dadang : aduh si ema, aya-aya wae tumaros teh ma, piraku dadang nuang bangku sakola? Nya can pernah atuh ma! Tah lamun si sumanto pernah, mineng malahan.
Ema     : euleuh si dadang ! sumanto mah lain dahar bangku sakola atuh dang, ayana ge dahar daging jelema! Ah maneh mah lieur. Yeuh dang, si enok teh dek dikawinkeun ku indungna!
Dadang : ohhhh...... dikawinkeun. Ngomong atuh ma titatadi, dikawinkeun kitu! Jadi meh ngarti, teu bolat-balit kawas tadi.
Ema     : eh, si dadang kalahkah nyebut “oh”. Itu dang, si enok dek dikawinkeun!
Dadang : hahhh ? apa ma ??? tiiidakkkkk !!!!!!!!
Ema     : apah,apah jiga orang kota wae!
Dadang : tah eta ma ?
Ema     : tah eta naon ?
Dadang : nya eta dadang teh kudu ka....ka...
Ema     : kamana ? kamana ? ka... ka... ka...kebon?
Dadang : heunteu ma henteu...
Ema     : euh ... euh ...
Dadang : sok sok ma, tuluy saetik deui ma !
Ema     : euh ... euh ... ah ema apal! Sok naon sok ?
Dadang : euh ... euh bah, bah bantuan bah ?
Abah   : naon atuh dang ?
Dadang : sok naon sok bah ?
Abah   : euh ... euh ...
Dadang : buru atuh bah !
Abah   : euh ... sawah? Munding? Gunung?
Ema     : sok gewat bah, sok ku ema di suportlah bah!
Abah   : euh ... bangkong? Kodak? Katak? Euh .. naon atuh kata kuncina?? Teuing ah lieur! Abah mah rek nuluykeun maca koran welah. (nuduhkeun koran) tuh tinggali di kota mah ...
Dadang : (motong omongan) tah, tah eta bah! Wah si abah pinter euy ...
Abah   : weess ... abah tea atuh. Dang, tibahela ge abah mah pinter, ngan teu nyirikeun weh.
Ema     : emch, bagja !
Dadang : tah eta ma, dadang teh kudu ka kota neangan duit keur ngalamar si enok.
Ema     : ulah dang, ema mah teu satuja!
Dadang : satuju meren ma!
Ema     : nya eta, ema teh teu satuju!
Abah   : abah ge teu satuju!
Dadang : atuhma, bah pan dadang teh dek ngalamar neng enok kudu make biaya, ku duit ma, duit! Janten dadang teh kedah gawe meh meunang duit keur ngalamar si neng enok.
Ema     : atuh dang, lamun dadang indit engke ema jeung saha?
Abah    : naaa, ari ema, ieu abah moal dianggap? Teuing ah, abahmah dek pundung we ah. (asup ka jero imah)
Dadang : pokonamah dadang dek indit ka kota, titik (bari indit)!
Ema     : daaaaaaaaaaaannngg!!! Jangan tinggalin emaaa!!
Dadang : meni lebay ma, dadang mah moal ka mana-mana.
Ema     : lah eta maneh dek kamana?
Dadang : dadang mah dek ka imah si neng enok, dek mastikeun beneur henteu neng enok teh dek dijodokeun.
Ema     : oh... panya teh dek kamana ?
            Ti dinya dadang langsung indit ka imah si enok, maksadna mah dek mastikeun bener henteuna isu perjodoan si enok.
Di buruan enok ....
Dadang : enok ...
Enok    : muhun kang?
Dadang : leres enok tek bade di jodokeun ?
Enok    : muhun kang, tapi enok teh alim dijodokeun, da enok mah cintana ge kan ngan ka kang dadang saurang. (isin-isin)
Dadang : sami enok, akang ge cintana ngan ka enok saurang. Matak ayeuna akang bade angkat ka kota, bade milarian acis kanggo nagalamar neng enok. Janteun, antosan akang nya neng ?
Enok    : muhun kang, enok jangji bakalan satia ka akang, bakal nungguan akang dadang dugi ka mulih.
            Wengina, tanpa kanyahoan ku sasaha, dadang mereskeun baju, maksadnamah bade kabur ka jakarta tea. Si dadang langsung indit ka jakarta, ngan teu ijin heula ka ema jeng ka abahna.
Isuk-isik di dapur....
Ema     : daaang!
Abah   : (diuk di korsi) dut!
Ema     : daaang!
Abah   : dut !
Ema     : euh si abah kabiasaan! Kamana nya si dadang teh ? naha, sare keneh kitu?
Abah   : duka, abah mah teu apal. Cikan pariksa ka kamarna, bisi ngagoler keneh.
Ema     : hayu atuh bah urang pariksa.
            Ema jeung abah mariksa ka kamar si dadang.
ema      : (asup ka jero kamar) aduh abah ... si dadang kamana? Naha teu aya di kamarna?
Abah   : kuanaon ma, kunaon?
Ema     : ieu bah, si dadang eweuh!
Abah   : naha ? si dadang teh kamana? Cik teangan di kolong kasurna, bisi ngagulutuk!
Ema     : (mariksa kolong) teu aya bah!
Abah   : (manggihan surat) ieu naon nya? (ngomong lalaunan). Ema, ari ieu naon?
Ema     : cik ema hoyong ninggal! Bah, ieu teh eusina naon?
Abah   : euh si ema, sugan teh bisa maca.
Ema     : hehehe.....
Abah   : (maca surat dadang)
            Asalamu’alaikum wr wb ...
                        Ma, bah, hampura dagang nya?
Ema     : dadang bah lain dagang.
Abah   :euh atuh da tulisan teh siga ceker munding.
Ema     : si abah aya-aya wae, sok tuluykeun deui bah.
Abah   : (nuluykeun maca)
              Asalamu’alaikum wr wb ...
                        Ma, bah, hampura dadang nya? Dadang teh nekad ka Jakarta teu pamit heula ka abah sareng ema. Margi, upami dadang pamit ka ema, dadang moal diijinan ku ema, janten dadang teh kabur wae. Dadang ka Jakarta teh demi neangan artos kanggo ngalamar si enok. Upami, ema sareng abah kangen ka dadang mah, telepon dadang weh. Engke dadang ge pasti uih, antosan dadang weh nya ma?
Lop yu ema,... lop yu abah....
wasalamu’alaikum wr.wb
Anakmu tersayang,
Dadang si kasep tea
Ema     : eleuh..eleuh... bah si dadang teh meni nekad, ema jadi teu genah hate kieu.......... telepon atuh bah, telepon si dadang.
Abah   : sabar ma, sabar ...(nelpon si dadang : tuuut ....tuuut...tuuut nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi). Halo? Si dadang mana? Ieu saha ieu? Eh, dipareuman si ontohod teh!
Ema     : kunaon bah? Si dadang mana ? kadieu ema hoyong ngomongjeung si dadang!
Abah   : naon da ieu mah nu ngangkatna ge lain si dadang, kalahkah awewe nu ngangkat telepon na oge.
Ema     : hah? Wah bah bahaya, boa-boa si dadang teh diditu keur jeung awewe lain kitu bah?
Abah   : tapi da ma, awewena teh lainna ngomong halo, ieu mah kalahkah ngomong kieu “nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.” Tah kitu.
Ema     : euleh si abah, panya teh he’eh si dadang diditu teh jeung awewe lain!
Abah   : tuluy, ati tadi saha atuh nu ngomong ari lain awewe salingkuhan si dadang mah ?
Ema     : eta nu ngomong mah operator bah!
Abah   : oh, operator panya teh saha. Eh, ai si operator teh sahana si dadang?
Ema     : euleuh.... abah meni gaptek! Operator teh eta..... ah teu penting eta mah.
Abah   : tah, eta si gaptek saha deui? Naa, babaturanna si operator kitu?
Ema     : aduh si abah mah lier, teuing ah bah ayeunamah nu penting si dadang kumaha?
Abah   : tanyakeun weh ka si operator, apanan si operator teh babaturanna si dadang nu anyar!
Ema     : eh si abah !!
            Ema langsung ka bumina enok. Maksadnamah dek ngabejaan kaayaan si dadang.
Di imah enok ...
Ema     : enoook .... enooook....
Ma ijah : heh, aya naon ieu ribut-ribut? Ngaganggu pisan!
Ema     : kieu, si dadang teh kabur !
Ma ijah : nya terus hubunganna jeung didieu naon ?
Ema     : muhun, ieu teh bade ngabejaan si enok. (ngomong lalunan) euh, dibageur-bageur kalakah sosorongot!
Enok    : (jol ti jero imah) aya naon ma ?
Ma ijah : engges .... engges, si enok mah geus boga calon jadi eweuh urusan deui jeung si dadang!
Ema     : nya puguh aya, yeuh dengekeun, si dadang teh kabur gara-gara saha?
Ma ijah : tuh gara-gara anak maneh si enok!
Ma ijah : kunaon kitu jeung si enok ?
Ema     : eh, si dadang teh kabur gara-gara anak maneh, eta si enok. Demi rek ngalamar si enok, si dadang teh ngabela-belaan kabur ka jakarta keur gawe!
Ma ijah : nya eta mah salah si dadang bet kabur! Titah saha kabur sok? Barinage mun si dadang geus gawe, angger weh moal satuju boga minantu kos si dadang! Teu lepel!
            Sementara kaayaan dadang di kota
Dadang : (bari leumpang) euleuh-euleuh, ieu teh jakarta kitu? Imah-imahna alalus euy, beda pisan geuning jeung imah di lembur mah. Euleuh, jakarta-jakarta, beuneur-beuneur gening ibu kota teh, hebat euy?....
Tukang pokarewet : pokarewet.... pokarewet .... pokarewet (lenpang bari nubruk dadang)
Dadang :eh si emang, ati-ati atuh mang!
Tukang pokarewet :eh, si ujang, ti lemburnya jang? Jang, bade pokarewet?
Dadang : muhun mang, bisaan euy si emang nebakna. Naha mang eta pokarewet teh naon?
Tukang pokarewet : nya bisa atuh jang. Apanan emang oge sarua ti lembur. Naon? Ieu? (bari nuduhkeun pocari sweet)
Dadang : muhun
Tukang pokarewet : oh, ieu teh pokari sweet.
Dadang : oh, pokari suwet. Panya teh naon. Tapi tadi mah emang teh lain ngomong pokari suwet, naon tah tadi teh?
Tukang pokarewet : pokarewet ?
Dadang : tah eta!
Tukang pokarewet : nya pan tadi tos di bejaan ku emang, emang teh sarua kos ujang ti lembur. Janten teu tiasa nyebat pokari sweet!
Dadang : tah eta geuning bisa !
Tukang pokarewet : eta mah conto atuh jang!
Dadang : oh, conto!
Tukang pokarewet : ari ujang bade naon ka jakarta ?
Dadang : ieu mang, dadang teh bade nyiar gawe. Kumargi dadang teh bade milairian artos kanggo ngalamar si enok di lembur.
Tukang pokarewet : oh kitu, sok atuh nya cing sukses milari gawena. Ngan ati-ati nya jang?
Dadang : naha mang? Ati-ati kunaon?
Tukang pokarewet : yeuh kadie jang, ku emang bejaan!
Dadang : he’eh sok mangga!
Tukang pokarewet: kieu jang, di kota mah urang teh kudu waspada tur ati-ati. Sabab, di dieu mah rawan panipuan jeung pancopetan! ( bari nyokot dompetna si dadang)
Dadang : oh kitu nya mang?
Tukang pokarewet :  nya emang kitu, matak kudu ati-ati nya jang? Lamun anu teu kenal mah ulah diladenan weh nya?  Nya entos atuh emang bade neraskeun deui dagangna, mun kitu mah nuhun nya jang?
Dadang : mangga mang, mangga. Eh si emang bageur-bageur teuing. Kedahna oge dadang anu ngomong nuhun teh da entos di wartosan ku si emang! (nyekel beuteng) aduh, dadang lapar euy, dek meuli dengeunna heula ah. (mariksa saku) euleuh ari loket dadang kamana? Ah, ken bae lah leungit loket hungkul mah, barinage euweuh eusina, nagan aya poto hungkul.
            Sementawis tukang pokarewet mariksa loket si dadang.
Tukang pokarewet : untung euy, ayeuna meunang loket (bari muka loket). Eleuh... naon eusina teh ngan poto hungkul? Euh dasar abong ti kampung. Cik heula asa apal ieu poto teh, poto sahanya? Oh .... ieu teh tatangga pas baheula di lembur. Aduh si ieu teh budakna si abah oyoh tea geningan. Engke welah mun papanggih urang baliken deui.
            Di jalan bakat ku kagum ka bangunagn di kota, dadang teu merhatikeun jalan.
Dadang : uluh.... meni raresep kieu euy di kta mah.  Mun dadang geus beunghar mah dek pindah ka kota. Harade kieu bangunanna.(nabrak awewe ngarana priciel)
Prieciel : aw!!
Dadang : (terpesona) wah....
Prieciel : (ngibaskeun buuk)
Dadang : witwiw .....
Prieciel : ih apaan sih lo ?
Dadang : neng meuni ka geulis pisan!
Prieciel : nora banget sih!
Dadang : euh si neng meuni ka sombong pisan.
Prieciel : masalah buat lo? (bari indit)
            Isukna di deukeut kampus prieciel, si dadang keur lempang neangan gawe.
Dadang : euleuh ieu teh kudu kumaha deui dadang teh nyiar gawe? Meunika hese pisan geuning neangan gawe di kota teh.
            Prieciel ngobrol jeung claudya.
Prieciel : dea gimana dong, gue lagi butuh supir nih. Gue cape harus nyetir sendiri. Pegel lagi.
Claudya : hello... sekarang kan zaman canggih. Pampang di koran ke di mana ke. Gausah dibawa ribet deh. Gitu aja ko ribet sih.
Prieciel : oh iya ya kenapa gue ga kepikiran.
Claudya : makanya berfikir cerdas dong kaya gue.
Prieciel : wuu ... cerdas apaan lo.
Claudya : hehehe.
Prieciel : (ditabrak dadang) aww!
Dadang : euleuh si neng geuningan.
Prieciel : ih lo lagi lo lagi, apa sih mau lo.
Dadang : aduh si neng meuni galak tea, sabar atuh neng. Yeuh neng dadang teh nuju bingung lamun nyiar gawe kamana nya ?
Claudya : (bari ngaharewos), ciel, kesempatan emas nih. Jadiin aja dia supir lo!
Prieciel : lo yakin ?
Claudya : gue yakin lah!
Dadang : naon atuh neng kalahkah haharewosan?
Prieciel : hmm .... gue mau ngasih pekerjaan buat lo.
Dadang : ciyus eta teh neng?
Prieciel : beneran, tapi lo bisa nyetir mobilkan?
Dadang : oh, gampang atuh neng. Dadang ge di kampung sok nyetiran, nyetiran munding.
Prieciel : ya apalah, mundang munding, yang penting lo bisa nyetir dan lo langsung kerja sekarang. Gimana ?
Dadang : aduh ....nuhun pisan neng. Dadang teh siap wae atuh sok hayu lah.
Prieciel : oke, nih kunci obilnya.
            Sementawis di kampung si enok ngalamunkeun dadang.
Enok    : (monolog) kang dadang .... kamana atuh kang dadang teh? Teu aya ngabaran pisan. Enok teh kangeun ka akang, akang oge kangen teu ka enok? Inget teu ka enok? Boa-boa akang teh pependang jeung istri nu lewih geulis ti enok. Euleuh..... enok teh jadi teu genah hate kieu. Kudu kitu enok teh narima lamaran kang soleh? Tapi kang dadang?
Ma ijah : heh enok ! maneh keur naon didinya? Laina geura sare. Maneh teh pastoi mikiran si dadang nya? Euh jalma kitu wae dipikiran! Mending ge tah si soleh, keurmah beunghar, bageur deuih.
Enok    : euh... heunteu mah, enok teh teu mikiran si dadang, enok teh mikiran kang soleh iraha atuh ngalamar enok.
Ma ijah : enok teh teu salah? Enok teh dek nikah jeung si soleh? Euleuh-euleuh ema teh meuni bungaah kieu.
Enok    : muhun ma, enok ngalakukeun ieu teh demi ema, enok siap nikah jeung kang sokeh demi ema.!
Ma ijah : tah kitu atuh nok. Eungke teh urang kan jadi beuki beunghar. Aduh ema teh teu sabar ngabaran si soleh.
            Geus sababaraha bulan si dadang di kota teu ngabaran ema jeung abah di kampung.
Ema     : bah, ges geus sabaraha bulan ieu si dadang teh teu ngabaran pisa. Ema teh hariwang pisan.
Abah   : ah da si dadang teh geus gede. Engke oge balik deui kadieu.
(henpon abah disada) kringgg...... kringgggg
Ema     : bah bah, eta telapon teh kring-kringan? Saha eta teh nu nelepon? Meuni ngagandengan pisa.
Abah   : keun urang angkat heula. “halo, tong ngagandengkeun ai nelepon teh. Bejaan heula mun dek nelepon jadi teu gandeng.
Dadang : halo, ieu teh abah?
Abah   : abah abah, jiga nu kenal wae maneh teh!
Dadang : ai abah, ieu teh dadang anak abah, nu kasep tea?
Abah   : oh, dadang! Dadang anak abah numana heula ieu teh?
Dadang : har ai abah, emang abah boga anak nu ngarana dadang sabaraha hiji? Ieu teh dadang suradang tea.
Abah   : oh, bejaan atuh titatadi.
Dadang : eh si abah mah, tatadi geus dibejaan ge.
Abah   : he’eh, hampura weh, da abah teh geus kolot.
Ema     : bah, eta teh saha atuh? Meni asa rariweh.
Abah   : ieu teh si dadang geuning ma, nu gandeng teh.
Ema     : oh si dadang, cik kadieu ema hayang ngomong. (bari nyokot telepon nu keur di cekelan ku abah) dang.
Dadang : halo ma, geus heulanya ma ieu pulsana bisi beak. Asalamu’alaikum. (tut...tut...tut...)
Ema     : dang ..? dang ..? halo..? eh kalahkah tututan.
Abah   : naon atuh ma ?
Ema     : ieu si dadang teh diajak ngomong kalahkah hayang tutut. Jeung teu ngomong deui.
Abah   : har ai si dadang teh kumaha? Cik kadieu (ninggali hape) euh ema, ieu mah dipareman, lain hayang tutut.
Ema     : oh kitu, da ema mah teu apal atuh.
            Mangbulan- bulan si dadang di kota, akhirna dadang balik deui ka kampung, mawa duit keur ngalamar si enok.
Dadang : asalamu’alaikum. Ma ... bah .... ieu dadang.
Ema     : aduh, ieu teh dadang anak ema tea pan?
Abah   : ieu teh dadang, cik keneh asa leutik keneh, ayeuna ges sagede kieu deui.
Dadang : muhun ma, bah ieu teh dadang.
Ema     : euleuh... hayu atuh kasep ka leubet. Ema teh tosmasak tuh.
            Sorena si dadang geus siap dek ngalamar si enok.
Dadang : eeeennnnoooookkkkkk.......... (slow motion)
Enok    : (pas dadang tereh deukeu enok) stop heula kang!!
Dadang : kunaon nok ? (bingung)
Enok    : enok teh bade nyarios ka akang.
Dadang : muhun apan akang oge bade nyarios ka enok. Tapi sok atuh enok heula, ledis pers tea.
Enok    : kieu kang, sateuacanna enok teh bade nyungkeun hapunteun ka akang. Sabenerna enok teh......
Dadang : sabenerna enok teh naon ...?
Enok    : enok teh tos nikah sareng kang soleh. Sakanteunan enok teh bade pamitan ka akang. Enok teh bade pindah sareung kang soleh.
Dadang : jadi... enok teh.....
Enok    : muhun kang. Enok nyungkeun hapunteun kang. Kang, ari akang tadi bade nyarios naon?
Dadang : euh... heunteu, eta euh...dadang teh bade euh... eta ngamandian munding.
Enok    : tapi sanesna munding teh tadi tos di mandian?
Dadang : euh... eta naon teh euh... can di sikat gigian. Tos atuhnya nok. Selamet weh nya.(bari indit)
            Monolog dadang.
Dadang : neng enok teh meuni tega pisan ka akang. Akang teh jauh-jauh merantau neangan duit keur ngalamar enok, tapi enok teh khianat. Enok teh teu satia ka akang. Mun kitu teh keur naon atuh akang balik deui ka dieu, ai ninggali enok jeung nulainmah. Ah sedih....
            Di kampung, si pieciel jeung si claudya ojol-ojol datang ka kampung si dadang.
Prieciel : kita harus kemana ya sekarang ?
Claudya : coba kita tanya aja ke ibu warung yang di situ.
Prieciel : yuk! (nanya ke ibu warung) bu, permisi.... kalau mantog kemana ya?
Ibu warung : har, ai rek mantog mah kamana weh. Make jeung tatanya!
Claudya : bukan bu, maksudnya kita nyari ma entog, emanya si dadang.
Ibu warung : oh, wawartos atuh neng. Kompromi heula atuh. Tuh kaditu, belok kanan, aya pager awi, beok kiri, aya tangkal sampeu, lurus tah didinya imah ma entog teh. Tah di anteur ku si neng.
Prieciel : oh, gitu bu, makasih ya bu. Yuk neng.
            Tos lami di jalan, ahirna prieciel jeung claudya nepi oge di ima si dadang.
Neng   : tah ieu bumina kang dadang teh. (ngageuroan ema) ma.... ma.... ieu aya teteh ti kota.
Ema     : saha nya neng ?
Neng   : duka da nyariosnamah bade ka kang dadang. Nya atos atuh teh, neng pamit heula da tos aya si ema.
Prieciel : oh iya, makasih ya neng.
Neng   : muhun, sawangsulna. (bari indit)
Ema     : neng, neng teh dari kota ?
Prieciel : iya ma, dadang nya ada ?
Ema     : ada tuh sedang ngangon munding di belakang.
Prieciel : oh iya ma makasih, saya kesana dulu ya ma.
            Dadang ti jauh ninggali prieciel.
Dadang : euleuh itu teh sahanya? asa apal.
Prieciel : dang !
Dadang : eh neng prieciel, aya naon kadieu? Kangen nya ka dadang?
Prieciel : gini dang, aku kesini mau ngasih kamu ini. (ngasongkeun ondangan)
Dadang : naon ieu eh neng ?
Prieciel : itu undangan nikah aku sama sam.
Dadang : jadi neng prieciel teh mau....
Prieciel : iya dang, kamu dateng ya ?
Dadang : euh... euh.. ii iya neng.
Prieciel : yaudah dang, aku pulang dulu ya. Bye.
            Dadang nu ngadenge berita eta sedih.
Dadang : (monolog) nahanya hirup dadang teh meuni kieu-kieu teuing. Naon salah dadang teh? Neng enok nikah jeung si soleh. Neng prieciel? Dek kawin. Euleuh... beuner hirup teh peurih. Tapi dadang teh ulah patah semangat, hirup mah kudu optimis. Dadang yakin pasti engke dadang meunang nu lewih ti neng enok jeung prieciel. Amin...
“TAMAT”